Kamis, 02 Desember 2010

PADA KEMANA AKTOR-AKTOR LAGA INDONESIA?

Hai filmholic..

Siapa aktor laga (action) dunia yang kalian kenal? Jackie Chan, Jet Lee, Sylvester Stallone, Arnold Schwarzenegger, Dolph Lundgren, Jean Claude Van Damme, Steven Seagal, Bruce Lee, Donnie Yen, dsb. Benar, nggak sampai sedetik pasti nama-nama diatas langsung melintas di benak kalian. Tapi, siapa aktor laga Indonesia yang kalian ketahui? Barry Prima, Advent Bangun, George Rudy,.. terus, siapa ya?
Ya, ternyata memang jauh lebih mudah menyebut nama aktor laga dunia (Hollywood & Hongkong) daripada aktor laga lokal kita. Dan sekedar mengingatkan, 3 nama yang disebut diatas adalah aktor laga lokal era tahun 70an—awal 90an(!). Pada kemana para aktor laga Indonesia di 15 tahun terakhir? Bertapa di padepokan di puncak gunung, atau menunggu bakat istimewa yang belum dilahirkan? J Memang sih, untuk kelas sinetron sempat muncul beberapa nama seperti Dede Yusuf, sang wakil gubernur Jawa Barat sekarang dengan serial Jendela Rumah Kita & Jalan Makin Membara-nya (kalau tak salah ingat judulnya). Ada juga Henri Hendarto dengan Kucing2 Hitam, Willi Dozan dengan Deru Debu, Ari Wibowo dengan Jackie, Marcellino Lefrandt dengan… & Irwan Chandra dengan Buce Li. Hanya itu seingat saya. Itupun hanya beberapa tahun saja, beberapa puluh episode tayang ditelevisi. Tak cukup eksis untuk membuat mereka disebut aktor laga terkemuka. Ari Wibowo & Marcellino Lefrandt yang potensial menjadi the next Barry Prima & Advent Bangun, malah kemudian beralih ke sinetron2 bergenre drama keluarga. Dede Yusuf jadi birokrat, Willi Dozan seolah larut dengan masalah keluarganya, sementara Irwan Chandra sibuk dengan karir modelling & memimpin sebuah kantor perusahaan asuransi.

Hai para pendekar, dimana dedikasi kalian pada kerajaan film & sinetron laga yang pernah membesarkan kalian..!? Masa kalian rela tanah negeri kalian ‘dijajah’ para pendekar tanah seberang seperti Donnie Yen, Jacky Chan, Jason Statham, dll..!?
Sebelum saya kelepasan mencak2 karena fakta yang memprihatinkan ini (maaf, lebay.. :-) ), mungkin ada baiknya sekilas mengingat kejayaan dunia persilatan perfilman Indonesia. Rekan pembaca, Barry Prima, Advent Bangun & George Rudy selama 15an tahun karir mereka, total telah membintangi 50an judul film & beberapa sinetron. Kalau dirata-rata, 3-4 film setahunnya. Berarti pukul rata, sekitar 6 film laga yang diproduksi dalam kurun waktu tahun 1975—1990, mengingat tak selalu 3 aktor itu bermain bersama dalam 1 film. Bayangkan teman, 6 film laga dalam setahun, hebat bukan!? Untuk lebih membuat rekan2 pembaca salut, artikel ini rinci menjelaskannya.
Oh ya, hampir lupa menyebut Saur Sepuh. Film yang diangkat dari serial sandiwara radio terpopuler era 80-an karya Niki Kosasih ini sempat membuat para pemain pendukungnya seperti Fendi Pradana, Candy Satrio & Murti Sari Dewi begitu terkenal. Namun sayang

masa popularitas mereka tak berlangsung lama. Serial drama radio lain yang juga hampir sama fenomenalnya, Misteri Gunung Merapi, juga pernah mempopulerkan nama pemerannya (lagi) yaitu Fendi Pradana dalam versi film & untuk sinetron, Marcellino. Namun lagi-lagi, tak bertahan lama difavoritkan pemirsa.
Nampaknya saya harus memperluas cakupan pembahasan ini menjadi tidak sekedar mengenai aktor yang mayoritas filmnya bergenre laga, tetapi juga aktor yang sering memerankan adegan perkelahian di film2 non laga. Rano Karno, nama yang cukup menonjol di ‘kelas’ ini. Mantan bintang cilik yang menjadi idola remaja dimasa mudanya ini kerap memainkan adegan perkelahian di film2nya, dalam peran yang biasanya menghadapi para pesaing dalam memperjuangkan cinta seorang gadis. Saya ingat dulu saat masih kecil, sangat senang kalau program Film Cerita Akhir Pekan di TVRI menayangkan film-film sang wakil bupati Tangerang ini. Saya bela-belain menontonnya demi aksi berantem-nya itu, tak menghiraukan saran nenek untuk jangan tidur malam-malam :-)

Rumah produksi (PH) PT Diwangkara & PT Genta Buana Paramita sempat konsisten membuat sinetron2 laga semacam Mahabharata, Karmapala, Angling Dharma, dsb. pada awal tahun 2000an & mengorbitkan aktor2 yang piawai beradegan laga. Namun, walaupun sempat disukai pemirsa, saya ragu bahwa banyak pemirsa yang masih hafal nama2 para aktor itu. Tanpa bermaksud merendahkan kualitas sinetron hasil produksi PH2 tersebut, secara obyektif cukup banyak pemirsa yang berpendapat bahwa adegan2 laga yang ditampilkan dalam sinetron2 itu kurang original (terlalu banyak special effect & pergerakan kamera) sehingga kurang memuaskan untuk ditonton. Kurang ditunjang pula oleh penggarapan cerita & skenario yang baik. Mungkin itu salah satu faktor yang membuat para aktor2 laga pendukungnya kurang memorable dalam benak pemirsa.

Merantau, ini dia gebrakan yang ditunggu-tunggu. Sebuah film laga yang ditangani dengan serius, juga melibatkan aktor utama yang asli juara pencak silat nasional, Iko Uwais. Tak heran, film yang disutradarai sineas Inggris Gareth Evans ini begitu sukses menjaring penonton di tahun 2009. Saya sempat berharap, kesuksesan ini segera diikuti oleh film2 sejenis. Tapi, mengapa tidak terbukti?
Rekan-rekan pembaca, mungkin ada baiknya kita coba analisis sedikit tentang alasan dibalik kemunduran produksi film & sinetron bergenre laga dalam 2 dekade terakhir ini, khususnya yang berkualitas baik & disukai pemirsa :

  • Pertama, pasti disebabkan oleh sempat mati surinya dunia perfilman Indonesia pada dekade 90an. Kenyataan yang bisa dibilang sebagai tragedi ini menghantam dunia perfilman nasional secara umum sehingga jumlah produksi film merosot drastis, misalnya dari 115 film di tahun 1990 menjadi hanya 37 di tahun 1993. Munculnya stasiun televisi swasta, kualitas film import (Hollywood & Hongkong) yang semakin baik, maraknya pembajakan yang tak tertanggulangi oleh pemerintah & semakin beredar luasnya peralatan pemutar video rumahan ditengarai menjadi faktor2 utama penyebab malasnya masyarakat kita pergi ke bioskop menonton film nasional. Seharusnya, media televisi yang menampung hijrahnya para filmmaker layar lebar ke sinetron, memberi kesempatan pada para insan berbakat itu untuk membuat tema sinetron yang bervariasi genre-nya, sama seperti film di masa jayanya. Namun terbukti, opera sabun & komedi ringan ala Multivision Plus yang merajalela di masa itu. Sesekali ada sinetron laga, namun tak bertahan lama.
  • Kedua, Lack of Creativity & Courage dari para produser film & penyelenggara televisi swasta. Kurangnya kreatifitas & keberanian untuk menciptakan sesuatu yang berbeda karena takut tidak laku dijual. Mohon maaf, mungkin tajam kritik ini, tapi saya rasa memang begitu keadaannya. Kita lihat saja di televisi, bagaimana acara sejenis reality show, komedi tradisional, atau pencarian bakat dsb. memenuhi layar kaca serempak di hampir semua kanal, di suatu masa tertentu. Di layar lebar, bagaimana kesuksesan genre religius seperti Ayat2 Cinta segera diikuti oleh film2 sejenis. Para insan industri ini mudah larut dalam arus trend, kurang berani membuat sesuatu yang berbeda. Padahal terbukti, siapapun yang berani membuat sesuatu yang berbeda—sepanjang itu dipersiapkan dengan sebaik-baiknya—hampir selalu menuai sukses besar. Petualangan Sherina, Ada Apa Dengan Cinta, Ayat2 Cinta & Merantau contohnya. Si Doel Anak Sekolahan untuk sinetron. Nanti deh, rekan pembaca lihat, sekali ada sinetron laga yang sukses besar, pasti langsung diikuti produksi sejenis.. 
Rekan pembaca, sebenarnya saya pribadi yakin bahwa film laga bisa bertahan, lebih dari genre lain bahkan. Alasannya, karena pemirsa pasti lebih suka nonton film laga di bioskop daripada nonton CD-DVD bajakan di DVD player di rumah. Selain itu, genre yang tak memerlukan konflik yang njlimet atau akting pemain yang luar biasa untuk membuatnya menjadi menarik ini relatif lebih mudah dipasarkan karena bisa dinikmati semua kalangan; dari anak SMP sampai kaum manula, dari para pekerja kerah biru sampai kerah putih. Sepanjang unsur sadistis diminimalisir, namun tanpa mengurangi kehebatan aksi laganya. Apa bisa film laga memuat unsur sadistis yang minimal? Bisa! Justru disitulah tantangan kreativitasnya.

Oleh sebab itu, saya punya saran buat para insan industri perfilman kita:

  • Bagi bapak2/ibu2 para produser, beranilah berinovasi. Mohon, jangan cuma mencari profit (instan?) lewat film2 low budget seperti komedi & horor sex. 
  • Bagi para calon aktor, bekali diri dengan skill bela diri agar siap main di genre laga, 
  • dan bagi the haves (kaum berpunya) agar mau melirik bidang usaha ini dengan mengajak sutradara & PH yang capable untuk memproduksi film laga. Nggak usah yang mahal dulu, buat saja yang semi drama dengan 4-5 pemain laga profesional (susah mendapatkannya?, ada komunitasnya kok di internet). Lalu, sewa aktor2 kita yang sehat & mau dilatih laga selama beberapa minggu sebelum syuting. 
Memang, membuat film/sinetron laga mungkin membutuhkan keribetan lebih dibanding genre lain, tapi ingat bahwa sepanjang dibuat dengan kualitas sekaligus tema yang beragam, penggemar genre ini akan selalu ada. Pernah dengar film2nya Jacky Chan rugi? Ya, kualitas & keragaman tema, itu kuncinya. Toh walaupun butuh skill khusus, ada juga sisi kemudahan dibanding menggarap genre lain: kualitas akting. Bukan saya menyepelekan pentingnya kualitas akting para pemeran, akting bagus selalu HARUS dalam setiap produksi film. Namun maksud saya, tidak harus meng-hire aktor papan atas seperti Acha Septriasa, misalnya. Atau Christine Hakim, Nicholas Saputra, Dian Sastro, dsb. Cukup, misalnya, para pemenang kontes kecantikan atau kebugaran yang berbakat & sedang mencari jalan untuk masuk ke industri hiburan, beri training akting, lalu.. jadi deh, aktor/aktris pembantu dari tokoh utama. Syukur2 kalau sudah memiliki dasar ilmu beladiri. Dengan catatan, aktor pemeran sudah kuat imagenya sebagai aktor laga papan atas.
Ayo, bikin film laga. Masyarakat Indonesia sudah merindukan aksi baku hantam yang khas Indonesia!

Berikut dibawah ini adalah daftar sebagian aktor laga yang pernah sangat populer di negeri kita, minimal aktor yang pernah beberapa kali beradegan laga, berikut sebagian film laga atau ‘bernuansa’ laga yang pernah mereka bintangi.
Aktor laga (berikut film2nya):
§ Ratno Timur : Si Buta dari Gua Hantu, dsb.
§ Dicky Zulkarnaen : Si Pitung van Batavia, dsb.
§ Rano Karno : Gita Cinta dari SMA, Anak2 Malam, dsb.
§ Barry Prima : Menumpas Teroris, 
Pasukan Berani Mati, dsb.
§ Advent Bangun : Rajawali Sakti, Si Buta Lawan Jaka Sembung, dsb.
§ George Rudy : Lebak Membara, Serigala Terakhir, 
dsb.
§ Johan Saimima: Ganesha, Komando Samber Nyawa, dsb.
§ Teddy Purba: Gundala Putra Petir, Jaka Tingkir, dsb.
§ Benny G. Rahardja: Lara Jonggrang, Tutur Tinular, dsb.
§ Fendy Pradana : Saur Sepuh, Misteri Gunung Merapi, dsb.
§ Candy Satrio : Saur Sepuh, Panther, dsb.
§ Dede Yusuf : Jalan Makin Membara, Reinkarnasi, dsb.
§ Henri Hendarto : Jalan Makin Membara, Kucing-Kucing Hitam, dsb.
§ Willi Dozan : Deru Debu(sinetron), dsb.
§ Ari Wibowo : Jacky (sinetron), dsb.
§ Marcellino Lefrand : Jackie, Jaclyn 1 & 2, Deru Debu, 
dsb.
§ Irwan Chandra : Buce Li (sinetron)
§ Roger Danuarta : Preman Kampus, Pengorbanan Anggun, 
dsb.
§ Marcellino : Misteri Gunung Merapi, dsb.
§ Iko Uwais : Merantau, dsb.

§ Yayan Ruhian: Merantau, The Raid, The Raid 2
§ Al Fathir Muchtar & Vino G. Bastian: Serigala Terakhir, dsb.
§ Ayuni Sukarman

Mohon maaf bila banyak yang terlewatkan. Untuk lengkapnya bisa mengunjungi IMDB.com, Wikipedia, kapanlagi.com atau situs2 lainnya.

Terima kasih.. sampai jumpa di artikel berikutnya..

bersambung ke Fajar Baru Film (Laga) Indonesia

3 komentar:

  1. Memang gan, sekarang pemain sinetron laga maupun sinetron biasa udah pada cemen, skrg maunya pada jadi pejabat. Jadi pejabat kan enak, dapat duit ga usah cape2 acting atau berperan, tinggal duduk yg manis a.k.a makan gaji buta serta korupsi a.k.a makanin duit rakyat utk kepentingan pribadi.

    Bang Dede Yusuf aja yg dolo gw demen banget ma actingnya n kepiawaiannya dlm berantem hehehe... skrg dah ga demen gw, liat Dede Yusuf skrg (perutnya buncit ga karuan).

    Makanya gw yg sbg org tiong hoa (yg rada ga demen liat actor2 luar, kecuali cuman 1 : Jackie Chan) merasa keilangan ma actor2 laga Indonesia (terutama buat gw WIlly Dozan, Dede Yusuf ma itu tuh, siapa namanya yg main sinetron Gerhana).

    BTW, tq gan dah ingetin kita ke actor2 laga masa lalu, smoga aja mereka sadar kembali n mereka mau dukung lagi film2 laga di Indo, skrg mah sinetron kebanyakan ga jelas ceritanya (Tukang Bubur Naik Haji aja ga abis2 tuh mpe skrg, jadi malas lg gw ngikutinnya).

    Best Regard
    Aries Fernandes

    BalasHapus
  2. thanx bro Aries.
    semoga film laga kita bisa kembali jaya..

    BalasHapus
  3. Sinetron silat khas Indonesia memang lagi mati suri saat ini gan, yang sedang tayang bisa diitung jari, kualitasnya juga parah (Raden Ki Santang contohnya); akting pemain2nya dangkal dan terkesan maksa, jalan ceritanya juga gak jelas. Kalau sinetron silat jaman dulu seperti Wiro Sableng, Jaka Gledek, Prahara Batavia, Kaca Benggala dll bisa memadukan jalan cerita yang menarik dengan adegan pertarungan yang dahsyat, juga diselipi humor segar (saya suka ngeliat interaksi antara Ali Zainal dengan Opie Kumis di Prahara Batavia). Yah semoga kedepannya bakal ada lagi sinetron silat khas Indonesia yang menarik, dengan plot ynag ga' ngawur dan adegan pertarungan yang dipenuhi special effect murahan.

    BalasHapus

 

Filmmaking Techniques

Loading...