Sabtu, 15 Desember 2012

5 CM: Dahsyatnya Keindahan Alam Indonesia, Agungnya Perjuangan Merengkuh Impian


Sudah lama saya nggak nonton film Indonesia di bioskop.
Terakhir kalau nggak salah, film The Raid. Lebih setengah tahunan yang lalu.
Bukannya nggak cinta produksi negeri sendiri atau nggak mau mendukung berkembangnya perfilman nasional, tetapi karena beberapa kali menonton film lokal di bioskop, saya harus pulang dengan kecewa.
Mungkin sebagian adalah kesalahan saya sendiri, karena membandingkan kualitas film lokal dengan film Hollywood atau Korea yang biasa saya tonton. Secara positif seharusnya menonton film-film produksi luar negeri seperti itu bisa membangkitkan wawasan baru dan semangat untuk membuat karya sekualitas mereka, tetapi secara negatif bisa membuat kita jadi memandang kurang terhadap film karya anak bangsa. Hal terakhir itulah yang nampaknya terjadi pada diri saya selama ini.

Tetapi saya tak ingin terpaku pada pola pikir yang jelas kurang tepat itu. Saya berpikir adalah sombong kalau saya beranggapan semua film nasional pasti jelek. Sebab kalau diingat-ingat, judul-judul seperti Petualangan Sherina, Gie, Ayat-Ayat Cinta, Laskar Pelangi, Denias, dsb. adalah karya-karya yang bagus di masa lalu. Hanya memang, tak setiap bulan atau 3 bulan sekali muncul karya baru yang bagus. Kesimpulannya, tak boleh putus asa pergi ke bioskop menonton film nasional. Tak boleh sayang mengeluarkan rupiah untuk menonton film lokal yang direview sebagai karya yang menarik. Jangan putus asa hanya karena beberapa film berkualitas pas-pasan. Sebab PASTI selalu ada insan-insan yang berjibaku menyajikan kualitas yang baik untuk setiap karya mereka, dan itu jelas harus dihargai.

            Saya pertama tahu tentang film 5 cm saat membaca sekilas novelnya di toko buku beberapa bulan yang lalu—dimana ada promosi tentang filmnya di sampulnya, dan menyaksikan bincang-bincang para pemerannya dengan Deddy Corbuzier di acara favorit saya Hitam Putih di Trans7. Saya langsung tertarik untuk mengobati kerinduan akan film nasional. Apalagi saat baliho yang terpampang di sebuah tempat strategis di pusat kota Jakarta secara indah menampilkan siluet 6 orang yang mendaki lereng gunung yang curam, langsung terbayang sebuah film yang dikerjakan secara serius. Bagaimana tidak? Mendaki gunung sendiri adalah sebuah kegiatan yang berat, apalagi membuat film di gunung. Resiko teramat besar dipertaruhkan bila sang filmmaker hanya ingin membuat film yang biasa saja.

Dan, dugaan saya tidak meleset. "5 cm" mungkin adalah film pertama yang secara serius berusaha menampilkan keagungan alam Indonesia yang luar biasa—gunung Semeru, sebagai bagian yang menyatu dengan rangkaian cerita. Alam sebagai sarana para tokohnya untuk memperoleh arti dari perjuangan mereka mencapai tujuan kehidupan. Zafran (Herjunot Ali), Genta (Fedi Nuril), Riani (Raline Shah), Arial (Denny Sumargo) dan Ian (Igor Saykoji) adalah 5 sahabat yang tak terpisahkan selama bertahun-tahun. Saking tak terpisahkannya, tak ada malam minggu yang berlalu tanpa kebersamaan mereka berlima. Saat menyadari bahwa masing-masing mereka nyaris tak punya teman akrab di luar kelompok itu, Genta mengajukan ide agar selama 3 bulan kedepan mereka tak usah bertemu dahulu satu sama lain. Keluar dari kepompong kenyamanan, menyelesaikan permasalahan mereka masing-masing. Tak ada SMS, tak saling bertelepon. Beberapa hari sebelum akhir dari masa 3 bulan itu, baru Genta akan memberi tahu via SMS kapan dan dimana pertemuan mereka. Gayung bersambut, semua setuju walau semula Riani berkeberatan.

Kelima sahabat itu lalu menjalani 3 bulan berikutnya dalam aktivitas-aktivitas yang terpisah. Genta dan Riani sibuk dengan urusan karir, Zafran berkutat dengan puisi-puisi dan usaha pendekatannya ke Arinda (Pevita Pearce) adik Arial, Arial dengan hobby olahraga dan usahanya mendekati seorang gadis, serta Igor yang berjibaku menyelesaikan skripsi. Masa-masa berpisah itu selanjutnya terbukti membuat mereka semakin menghargai arti persahabatan. Akhirnya, tepat tanggal 14 Agustus Genta mengirim SMS pemberitahuan, bahwa tempat pertemuan mereka adalah stasiun Senen.

Tiga perempat film berikutnya menceritakan apa yang disiratkan oleh posternya. 5 sahabat beserta Arinda berkereta api ke Malang, lalu mendaki ke puncak Semeru. Susah payah dan kerjasama selama proses pendakian inilah ternyata inti dari film berdurasi 2 jam ini. Bagaimana 6 orang itu saling bantu, saling melindungi, saling menguatkan, ditengah stamina yang diuji dalam mengarungi lereng gunung yang indah sekaligus berbahaya. Banyak pengalaman dan manfaat yang mereka peroleh, disamping ketakjuban akan alam negeri yang sebelumnya tak pernah terpikirkan. Serta tentunya, romantisme cinta yang menemukan momennya untuk terucapkan.

Melihat nama Rizal Mantovani sebagai sutradara, langsung terbayang gambar-gambar indah ala video klip yang akan mendominasi film. Terlebih setting tempat yang sangat mendukung. Terbukti memang benar. Sutradara video klip selama belasan tahun itu seolah menemukan momen untuk menggali minatnya akan keindahan visual. Dengan kamera berlensa widejimmy jib dan mungkin crane, bahkan menggunakan helikopter atau pesawat udara, Rizal “berfoya-foya” mengabadikan keajaiban lanskap Semeru. Gambar yang jernih dengan angle yang pas jelas menggambarkan keindahan padang rumput, bunga, danau dan bibir kawah gunung tertinggi di Jawa itu. Untuk penceritaan, menurut saya ditampilkan dalam ritme yang pas. Tak terkesan terburu-buru, setiap penggalan kisah ditampilkan sesuai porsinya dalam bangunan cerita keseluruhan. Intinya, menurut saya, hampir tak ada hal yang mengganggu kenyamanan menonton film ini. 2 jam berlalu tanpa terasa.

Namun sebagai kritik konstruktif, jujur memang ada (sangat) sedikit yang saya sayangkan. Pertama, saat para tokoh sampai di pintu masuk taman nasional di lereng Semeru. Diatas jeep mereka bergantian mengucapkan kata-kata puitis pembangkit inspirasi, seraya terpana oleh keindahan gunung. Naturalkah itu? Juga saat sampai di puncak gunung. Akan lebih baik mungkin, bila naskah dan adegan tersebut dibuat lebih ‘santai’. Pasti lebih masuk akal. Kemudian, akting Igor Saykoji. Tidak jelek, hanya nampaknya kurang sepenuh hati di beberapa adegan. Yaitu saat meluapkan kegembiraan. Kurang total, kurang gereget. Misalnya saat diberitahu oleh ayahnya bahwa ia akan disekolahkan ke Inggris, dan saat melonjak gembira karena akhirnya berhasil sidang skripsi. Bila serius berlatih, pasti Igor bisa meningkatkan penampilan aktingnya di film-film berikutnya.

Inspiratif. Kata itulah yang saya pilih untuk mendeskripsikan film ini. Menginspirasi untuk menjadi manusia Indonesia yang lebih bersyukur dengan lebih meningkatkan prestasi demi kebahagiaan diri dan nama baik bangsa. Menginspirasi juga untuk mengeksplor keindahan “zamrud khatulistiwa” karunia Tuhan ini. Di tengah serbuan film Hollywood, di tengah pengaruh kuat K-Pop dan musisi barat, di tengah kekacauan tata kelola sepak bola nasional, di tengah karut marutnya korupsi para pejabat negara, dan segala kemunduran bangsa dan negara ini di hampir segala lini, “5 cm” sangat menyegarkan sebagai sebuah tontonan yang membangkitkan asa dan nasionalisme. Bahwa BILA KITA MAU, KITA BISA MERAIH KEMAJUAN DAN KEBAHAGIAAN.

Terima kasih bung Donnie Dhirgantoro, bung Ram & Sunil Soraya, bung Rizal Mantovani, serta segenap pemain, kru, dan staff produksi dan distribusi. Kerja kalian sungguh bermakna. MAJU TERUS FILM INDONESIA! 


5 CM


Produksi           : Soraya Intercine Films
Produser          : Sunil Soraya
Sutradara         : Rizal Mantovani
Penulis Naskah : Donny Dhirgantoro, Sunil Soraya, Hilman Mutasi
Penulis Novel   : Donny Dhirgantoro
Pemain Utama : Herjunot Ali, Igor Saykoji, Denny Sumargo, Pevita Pearce, Raline Shah, Fedi Nuril.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Filmmaking Techniques

Loading...